Membangun Gerakan Guru Nusantara

gtt-blitarSampai hari ini kita masih berharap Indonesia bisa menjadi lebih baik. Rakyat nya bisa jauh lebih sejahtera. Memiliki rakyat yang terdidik. Memiliki generasi-generasi muda yang kuat, memiliki visi untuk membangun dunia bersama bangsa-bangsa maju dengan kemuliaan dan keadilan sosial.

Sejatinya, hari ini nagara membangun fokusnya pada pendidikan. Dengan melihat turunnya kualitas pendidikan kita, tentu ini menjadi tugas besar bagi pemerintah untuk kembali membangun semangat keilmuan di tengah rakyatnya. Menjadi tugas pokok negara memikirkan dan mencari jalan keluar di tengah kebuntuan menurunnya kualitas pendidikan kita hari ini.

System pendidikan yang bongkar pasang, politisasi pendidikan, politik sekolah, politik guru masuk ke dalam denyut nadi dan tak bisa dipisahkan dari pendidikan kita hari ini. Alhasil bukan hanya siswa yang menjadi korban tapi jutaan guru yang juga sebenarnya mereka adalah pekerja harus menelan pil pahit bahwa nasib mereka juga semakin tidak jelas.

2015-12-13-20-16-57_peringatan-puncak-hari-guru-jpgDalam kondisi seperti ini, kapan sang guru sempat memikirkan kualitas ajar mereka? Kapan mereka sempat memikirkan kualitas anak-anak didik yang mereka didik? Status mereka sebagai guru tidak pernah kunjung jelas. Pendapatan mereka sebagai guru tidak mencukupi kehidupan layak mereka sebagai guru. Memenuhi unsur upah minimum saja sangatlah sulit. Masih ada guru di tengah kota besar yang menerima gaji Rp.250.000 sampai Rp.700.000

Masalah sertifikasi, masalah akreditasi, masalah mutasi, masalah pengangkatan jabatan ini dan itu sering kali menjadi polemik yang berkepanjangan di instansi-instansi pendidikan. Politik sekolah, dagang jabatan, politik guru menjadi kembang-kembang busuk pendidikan. Tidak heran lagi, jika guru ingin bersertifikasi mereka akan melakukan hal-hal busuk di belakang. Bukan hal baru lagi, jika ada yang ingin menjadi kepala sekolah di sekolah favorit harus memberikan setoran kepada kepala dinas ini dan itu berjuta-juta bahkan puluhan dan ratusan juta. Sungguh, apakah ini pendidikan yang mendidik?

Hari-PGRI-Bung-KarnoPolemik guru swasta yang bergantung hidup pada yayasan-yayasan pendidikan, di mana mereka sering diperlakukan sekehendak hati pengelola. Manajemen suka dan tidak suka berlaku disini. Kapanpun mereka bisa memecat sang guru. Mekanisme Undang-Undang 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan tidak berlaku disini. Apakah benar demikian? Lalu perlindungan seperti apa yang akan guru-guru dapati sebagai pekerja disana? Mereka memenuhi unsur sebagai pekerja. Menerima perintah, mengerjakan sesuatu untuk mendapatkan upah.

Guru sebenarnya bisa memiliki peran yang lebih baik, memiliki taraf hidup yang lebih baik pula. Memiliki jaminanan kehidupan sosial yang jauh lebih baik dari hari ini. Selama ini guru sudah memiliki organisasi guru. Tapi mengapa masih saja banyak permasalahan yang tidak terselesaikan? Kita akan jawab pada tulisan berikutnya….

Bersambung…….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s