Sekolah Masa Depan

IMG_20180420_094116Hari ini kita disuguhkan dengan sekolah yang kita anggap sebagai sekolah terbaik dalam kacamata yang kapitalistisk. Di mana modal utama sekolah adalah tanah, bangunan dan segudang fasilitas yang ada di dalamnya. Sekolah bisa hadir dengan tema dan pesanan. Apakah itu sekolah Internasional, sekolah berbasis islam, sekolah yang memiliki system pendidikan tertentu yang dicangkok dari luar sana, atau sekolah yang back to nature dengan budaya setempat. Sehingga terkadang kita lupa tujuan dan makna pendidikan yang menjadi dasar kita mendirikan sekolah. Apakah hanya itu yang dibutuhkan oleh sebuah sekolah yang terbaik?

Umpama pohon yang di cangkok agar bisa berbuah banyak tapi belum tentu pohon itu sehat dan buahnya berkualitas. Sudah tentu kita menginginkan siswa yang banyak, dengan banyaknya siswa roda kehidupan sekolah berputar dengan baik. Sekolah hanya terlihat maju dengan siswa yang banyak.

Atau ada pilihan lainnya, kita memilih untuk menjaga pohon tetap tumbuh sehat dengan alasan sekolah butuh proses agar bisa tumbuh dan berkembang dengan baik, tidak perlu banyak siswa tapi yang terpenting adalah siswa yang berkualitas. Pohon yang menghasilkan buah yang berkualitas. Menjaganya tumbuh sehat ibarat membangun pondasi yang kokoh agar sekolah berkembang sesuai tahapannya.

Beberapa sekolah mengeluh, bagaimana caranya agar sekolah dapat berjalan dengan baik, berkembang sesuai harapan dan mampu menghadapi serta menyelesaikan masalahnya dengan solusi yang tepat.

Ternyata sekolah juga banyak mengakui bahwa mengelola sekolah lebih sulit dibanding mendirikan bangunan sekolah, membangun tradisi dan sistem sekolah lebih rumit dibanding dengan memperluas area sekolah, mempunyai guru berkualitas yang senafas dengan visi misi sekolah lebih besar tantangannya dibandingkan dengan menambah mengganti atau bongkar pasang guru.

Hampir semua sekolah mempunyai masalah yang sama, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang bisa diatasi dengan mudah sampai yang rumit dan selalu datang seiring tahun ajaran berganti. Tidak sedikit sekolah akhirnya hanya membenahi masalah yang tampak terlihat oleh mata saja sehingga tetap indah dilihat wali siswa sebagai mitra sekolah utama. Tapi secara internal sekolah tetap memiliki masalah yang belum mampu diselesaikan dan mungkin malah bertumpuk dari tahun ke tahun. Namun Yang lebih parah lagi pemilik lembaga atau pemimpin sekolah menilai hal itu bukanlah masalah yang penting untuk diselesaikan sehingga bersikap acuh, memasang bendera penolakan, siapapun yang merasa tidak nyaman atau tidak cocok di sekolah nya dipersilahkan keluar.

Mampu menjaga sekolah agar tumbuh sehat dengan menjaga tetap berjalannya tradisi, prinsip, budaya, sistem manajemen yg tepat dan tangguh menghadapi hama sekolah ternyata lebih baik dan membawa kebaikan di masa depan daripada mengupayakan agar sekolah berdatangan banyak siswa dengan segala aksi instan, seperti :

  • pemberian promo besar-besaran,
  • pasang dan sebar brosur sebanyak-banyaknya.
  • Menjanjikan ini dan itu

IMG_20180402_163142Namun akan merosot tajam di pertengahan jalan, jumlah siswa menurun bahkan siswa yang adapun berkurang pindah ke sekolah lain. Ingat, hukum pasar di Indonesia tidak ada konsumen yang mau membela mati-matian produck nya. Kecuali yang benar-benar sudah pas di hati mereka. Sudah bukan rahasia jika sebuah slogan mengatakan semua yang diraih secara instan akan hilang dengan instan juga.

Marilah kembali kepada tujuan pendidikan itu sendiri, sekolah harus hadir dengan jiwa pendidikan terlebih dahulu sehingga mampu mempunyai pemikiran dan semangat kuat untuk menciptakan sebuah sekolah yang sehat.

Sekolah terbaik bukan sekolah yang megah, sarana dan fasilitas sekolah yang sangat luar biasa dengan biaya sepadan. Kenyataan nya sekolah mahal pun tidak bisa menghindari permasalahan yang terjadi antar siswa, antar kelas, gank-gank dan buly membuly.  Banyak siswa yang menjadi korban budaya sekolah yang tak mengedepankan tradisi pendidikan di dalamnya.

Apa yang harus dimiliki sekolah?

  1. Ruh Pendidikan.

Pemimpin dan Pemilik Sekolah harus mempunyai ruh pendidikan, paham dengan tujuan dan perjuangan pendidikan, paham akan masalah yang bisa menghambat pertumbuhan sekolah dengan bijaksana, terus menerus belajar dan menggali wawasan tentang pendidikan Indonesia bahkan negara lain, memahami kelemahan dan keunggulan pendidikan di negara-negara lain. Dengan demikian pemimpin sekolah memahami benar pijakan serta prinsip sekolah nya.

  1. Bangun pondasi yang kokoh.

Jangan bicara atau merancang bentuk bangunan sebelum membuat pondasi nya kokoh. Kita tentu tidak bicara mengenai pondasi bangunan secara fisik namun lebih dalam lagi adalah apa yang menjadi dasar semangat dan niat saat kita memimpin sekolah. Apa esensi yang paling penting dari tujuannya.

Pendidikan adalah nafas dunia ini, menjadikan manusia menjadi manusia yang seutuhnya sehingga dia tahu bagaimana menjaga buminya, menjaga kelangsungan hidupnya dengan seimbang. Dengan pendidikan yang benar maka kita tidak hanya bisa bicara dan duduk bersama membahas aplikasi Go Green, pemisahan sampah organik dan non organik, atau perbaikan negeri ini agar terhindar dari serangan virus korupsi. Tapi lebih dari itu, kita bahkan mampu melakukan aksi nyata karena SDM sudah pada tataran siap mengolah SDA yang ada. Itulah esensi pendidikan yang harus ada pada pondasi dasar seorang pemimpin sekolah di Indonesia.

  1. Program upgrade yang kontinyu dan konsisten.

Pemimpin sekolah selalu membuka pintu seluas-luasnya untuk perbaikan, mengirimkan utusan nya mengikuti pelatihan dan pembinaan untuk memahami dan mendalami ilmu, tidak menutup mata atau berpaling muka dengan kondisi yang seharusnya bisa diperbaiki. Konsisten dan komitmen menjadi yang utama. Pelatihan dan pembinaan adalah hal penting dalam pembangunan SDM Sekolah yang handal.

  1. Memiliki budaya sekolah.

Banyak sekolah terkecoh dengan pola dan gaya sekolah yang sudah ada. Seragam siswa dan seragam guru tidak harus menjadi bagian terpenting dari ciri khas sekolah. Ingat,  bukan yang terpenting bukan berarti tidak penting, boleh saja menerapkan seragam sekolah untuk siswa dan guru namun sebaiknya pemimpin sekolah mengetahui dahulu makna dari sebuah seragam tersebut, seragam sekolah bukanlah ciri dari sebuah sekolah tapi jauh dari itu semua sekolah harus mempunyai budaya yang dibangun secara berkesinambungan melalui proses dan tahapan.

IMG_20180418_164448Pernah melihat siswa memakai seragam model wearpack? Saat ditanyakan mengapa memakai pakaian seperti itu kepada siswa yang sedang mengantri masuk gerbang sekolah nya, siswa itu menjawab “karena seragam ini khusus untuk hari lingkungan kami akan meneliti perubahan lingkungan yang ada untuk proyek pelajaran kami”. Siswa tahu benar fungsi seragamnya. Seperti halnya pertanyaan yang sama dilontarkan pada siswa saat dia memakai baju olahraga “ya karena kami hari ini ada pelajaran olahraga”.

Atau contoh lain, siswa berbicara melalui pengeras suara di sekolahnya menyampaikan pengumuman penting seputar persiapan dan teknis outbound besok. Hal ini tidak mungkin bisa terjadi tiba-tiba bukan? Pasti ada tahapan yang dilakukan oleh pihak sekolah sehingga siswa ini mampu melakukannya, dan hal ini menjadi budaya di sekolah. Yakni guru adalah coaching, inspirator, dan facilitator yang menyiapkan siswa siswanya siap menghadapi masa depannya. Seperti itulah seharusnya sekolah, budaya dibangun dari pemahaman dan menghasilkan kesadaran.

  1. Alat kontrol dan sistem evaluasi yang terukur.

Pemimpin sekolah mampu mengendalikan dirinya sebagai seorang yang siap memperbaiki kesalahan. Inilah dasar dari tujuan evaluasi. Tidak hanya menceklist program yang sudah berjalan, namun mampu mengukur sejauh mana proses target itu tercapai. Tidak hanya membahas prestasi, namun mampu menentukan langkah menghadapi masalah. Tidak hanya menyiapkan sanksi atau punishment untuk mendorong semangat, namun mampu menyiapkan reward yang pas untuk mengapresiasi sebuah potensi. Alat kontrol berupa instrument yang digunakan selalu disosialisasikan kepada elemen sekolah, sehingga semua memahami apa yang menjadi target sesungguhnya, memahami apa yang perlu dipersiapkan untuk menghindari kesalahan bukan tiba-tiba dan sebuah rahasia.

Dengan begitu pemimpin sekolah bukanlah sosok diktator yang dipatuhi karena takut, yang selalu dihindari dengan strategi.  Jadilah pribadi pemimpin yang tahu benar memposisikan diri, kapan dia harus menjadi pemimpin yang berada di depan pasukan, kapan dia harus bersama pasukan membangun perjuangan bersama.

*Sekolah anda membutuhkan konsultan sekolah? Silahkan hubungi :

Jejak Jemari Institute (Lembaga Training dan Manajemen Sekolah)

Wa/ Tlp : 0813 1569 5255

Email : jejakjemariinstitute@gmail.com

Facebook Fan Page : Training Guru Kreatif 

*Bersedia melakukan observasi langsung ke sekolah sebelum pelaksanaan training dan workshop

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s