Kesadaran Menuju Ramadhan

Begini-Cara-Baru-Menyambut-Bulan-Suci-RamadhanSaya sering berpikir mengapa kualitas ibadah kita semakin hari tidak semakin baik. Ibadah kita hanya seperti itu-itu saja. Dari hari ke hari, dari Jum’at ke Jum’at, dari Ramadhan ke Ramadhan. Kualitas nya begitu-begitu saja. Mungkin karena kita terlalu sibuk dengan urusan yang lain. Mungkin fokus kita bukan kepada ibadah. Sehingga kita tidak pernah berniat untuk meningkatkan amal ibadah kita. Atau kualitas dari amal ibadah kita. Semua kita lakukan datar-datar saja. Bahkan mungkin kita jarang sekali memikirkan atau merenungkan alasan megapa kita melakukan ibadah tersebut.

Jangankan kita berpikir kepada kualitas ibadah, mungkin ilmu tentang praktek ibadah itu saja belum pernah kita pikirkan. Apakah sudah benar ibadah yang kita lakukan itu… apakah benar sudah sesuai dengan tuntunan syariat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan Para Sahabat nya? Apakah rukun, syarat dan sunnah-sunnah nya sudah kita lakukan?

Kebanyakan manusia hari ini melakukan sesuatu terhadang tidak memahami dengan benar apa tujuan dari “mengapa dia harus melakukan hal tersebut” apapun itu. Jangan kan ibadah, hal-hal yang lain pun mungkin tidak pernah terpikirkan oleh nya mengapa dia harus melakukan hal itu. Untuk apa dia melakukan hal itu. Faktor kebiasaan saja, atau lingkungan diluar dirinya yang lebih mendominasi dia untuk melakukan sesuatu, dianggap nya  sebagai suatu kewajaran dalam melakukan hal yang umum dilakukan.

Wajar jika Allah menaikkan derajat manusia yang memiliki ilmu dibanding dari manusia yant tidak memiliki ilmu. Kenapa? Karena dengan ilmu nya lah dia melakukan sesuatu. Dengan ilmu nya, dengan kesadarannya dia melakukan sesuatu. Dia melakukan sesuatu itu bukan dengan kabar burung, bukan dengan “kirologi” nya, bukan dengan nafsu nya. Dia tidak melakukan sesuatu dengan hanya tebak-tebakan, Dia tidak melakukan hal yang dianggap nya baik maka dia akan lakukan sebanyak banyak nya tanpa tuntunan yang benar, dengan ilmu yang benar. Bukan itu. Tapi semua dilakukannya dengan ilmu.

Kaidah dalam ibadah ternyata adalah “setiap ibadah itu adalah haram, sampai turun dalil di dalam nya” Artinya kita tidak boleh melakukan ibadah apapun tanpa ada dalil atau hujjah yang menyertainya. Ini prinsip kaidah yang harus kita pegang dengan benar. Persoalannya adalah dimana kita bisa mendapatkan dalil tersebut? Kita bisa mendapatkan dalil tersebut lewat kajian-kajian agama. Kita bisa bertanya pada mereka yang memiliki pengetahuan agama yang baik tentunya.

Hari ini yang mengaku sebagai ustadz begitu banyak. Padahal pengetahuannya tentang agama sangatlah dangkal. Baru hijrah dari dunia ke-artisan langsung “ngustadz”. Padahal dia tidak memiliki ilmu agama sama sekali. Aneh kalau orang biasa dipanggil dengan ustadz. Ustadz itu katanya guru, tapi membaca quran pun tidak lurus, tidak mengerti hadits ataupun ilmu agama yang lainnya. Yang lebih berbahaya lagi adalah mereka berpenampilan “sunnah” menyitir hadits-hadits palsu yang dia sampaikan.

Mengeluarkan dalil yang tidak jelas darimana asal muasal nya. Dengan gampang nya dia mengatakan bahwa ini dari Imam Syafei, ini dari Ulama si A. Dia telah menyandarkan sesuatu hal yang bukan berasal dari asalnya. Bahkan tega dia menyebut dari Imam ini, ulama itu. Naudzubillah.

Melakukan ibadah praktek nya sudah benar, tapi rukunnya ditabrak, tanpa dalil melakukannya. Ini adalah pelecehan. Menjelang Ramadhan berseliweran hal-hal yang aneh-aneh dilakukan oleh masyarakat Indonesia ini. Menyandarkan bahwa hal ini biasa dilakukan oleh ulama-ulama Salaf.

Mereka menyandarkan dengan Imam Syafei tapi mereka tidak pernah tuntas membaca kitab Imam Syafei “Al-Umm”. Ini kekeliruan besar menurut saya.

Ramadhan kali ini harus lebih baik dari Ramadhan di tahun kemarin. Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita semua untuk bisa menemui Ramdhan di tahun ini. Semoga kita bisa mempersiapkan Ramadhan di tahun ini dengan sebaik baiknya.

Memperhatikan hal-hal wajib di dalam nya, memperhatikan dan melaksanakan hal-hal sunnah di dalam nya. Fokus kita kepada Ibadah yang ingin kita lakukan. Fokus kita kepada muhasabah menghitung diri kita. Di mana Ramadhan bisa kita jadikan bulan perenungan untuk kita menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Ramadhan juga kita jadikan sebagai bulan mendekatnya kita kepada Al Quranul Karim.

Izinkan saya berbagi kepada anda semua sebuah kumpulan hadits mengenai Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Abu Asma Andre semoga Allah menjaga beliau, semoga dengan apa yang saya bagikan ini bisa bermanfaat bagi anda semua dan juga teruntuk saya dan keluar juga kepada ustadz Abu Asma Andre beserta keluarga….Aamiin ya Robbal Alamin…..

Silahkan di Unduh  https://archive.org/…/40%20Hadits%20Lemah%20Dan%20Palsu%20S…

Wallahualam bishowwab…..

Serang Banten,

Jumat 04 Sya’ban 1439 H

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s