Apa Yang Sulit Dari Mendidik Anak

IMG_20180418_150330Hari ini saya ingin berbagi tulisan megenai pendidikan anak. Tulisan istri saya Arum Sariwati  yang ditulisnya pada tahun 2016 dan pernah di post di web nya Training Guru Kreatif. Semoga dengan membaca ini membuka insight baru kita mengenai pendidikan anak-anak kita. 

Bagi yang ingin berkonsultasi secara langsung dan tidak langsung bagi orangtua atau sekolah yang membutuhkan pembinaan dan kajian psikologi anak. Silahkan hubungi CP. 089604422977 /081315695255(WhatsApp) Arum Sariwati, Psi (silahkan Klik jika ingin berkonsultasi langsung)

Ayah bunda, orangtua dan para guru yang berbahagia. Ananda kita semakin hari semakin tumbuh dan berkembang dengan berbagai keunikan dan permasalahan yang berbeda antara satu dengan lainnya. Tidak jarang kita mengalami kesulitan, kebingungan dalam menghadapi dan mencari jalan keluar tatkala menghadapi hal-hal tidak terduga dari sikap yang dimunculkan anak.

Perlu diketahui bahwa kebanyakan orangtua dan guru melakukan kesalahan dalam menghadapi tingkah keseharian anaknya. Banyak hal yang penting bagi anak sengaja atau tidak terlewatkan dan berlalu begitu saja, sedangkan anak tidak mungkin bisa kembali mundur untuk mengulangi hal yang berharga yang tidak sempat diraihnya.

Mari sejenak kita menjawab pertanyaan berikut ini.

Silahkan menjawab dengan jujur sebenarnya apa yang paling sulit dari mendidik atau mengurus anak?

Yang sering saya dengar jika pertanyaan ini saya lontarkan pada audience parenting, Apa yang paling sulit dan susah dalam mendidik anak? serentak orangtua menjawab “saat anak susah makan, susah dibilangin gak mau nurut, kalau sedang ngamuk minta sesuatu susah ditenangin, anak suka melawan omongan orangtua” Ayah bunda juga memiliki jawaban yang sama?

Jawaban di atas adalah alamiah, semua orangtua dan guru pasti mengalami permasalahan seperti itu. Hal yang sangat wajar jika kita selalu dibuat pusing dengan kondisi seperti itu, padahal kondisi seperti itu ada faktor pemicunya. Ketahuilah bahwa ada satu hal yang utama, yang sangat penting dan ini yang paling sering diabaikan oleh kita semua serta menjadi faktor utama pemicu kondisi yang kita sebut di atas. Yang sering diabaikan inilah yang sesungguhnya merupakan hal yang paling sulit dari mendidik atau mengurus anak. Yang paling sulit dari mendidik anak bukanlah sekedar menghadapi kesulitan “saat anak susah makan, susah dibilangin gak mau nurut, kalau sedang ngamuk minta sesuatu susah ditenangin, anak suka melawan omongan orangtua”. Bukan itu. Ayah bunda dan para guru yang berbahagia kesulitan yang kita sebutkan di atas itu adalah hal yang biasa, semua anak mengalami masa penolakan, masa penegasan, masa pembuktian kebenaran inilah yang menyebabkan anak menunjukkan sikap yang tidak sejalan dengan harapan orangtua atau gurunya. Jadi masalah susah makan, susah diarahkan, tidak mau menurut, mengamuk saat meminta sesuatu dan lain-lain itu bukanlah hal yang paling sulit dalam mendidik atau mengurus anak. Lalu apa yang sebenarnya yang paling sulit itu?

Ternyata yang paling sulit dari mendidik anak adalah mendidik dan membangun karakternya. Banyak orangtua dan guru belum mampu secara maksimal memberikan pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan anak untuk bekal sepanjang  proses menuju masa depan nya. Apa sebenarnya karakter itu?

Pengertian Karakter

Dalam Webster’s Dictionary, pengertian kata karakter berarti ”the aggragate features and traits that form the apparent individual nature of same person or thing; moral or ethical quality; qualities of honesty, courage, integrity; good reputation; an account of the cualities or peculiarities of a person or thing”. Karakter merupakan totalitas dari ciri pribadi yang membentuk penampilan seseorang atau obeyek tertentu. Ciri-ciri personal yang memiliki karakter terdiri dari kualitas moral dan etis; kualitas kejujuran, keberanian, integritas, reputasi yang baik; semua nilai tersebut di atas merupakan sebuah kualitas yang melekat pada kekhasan personal individu. Karakter adalah sesuatu yang dipahatkan pada hati, sehingga menjadi tanda yang khas, karakter mengacu pada moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Karakter bukan merupakan gejala sesaat, melainkantindakan yang konsisten muncul baik secara batiniah dan rohaniah. Karakter semacam ini disebut sebagai karekter moral atau identitas moral. Karakter mengacu pada kebiasaan berfikir, berperasaan, bersikap, berbuat yang memberi bentuk tekstur dan motivasi kehidupan seseorang. Karakter bersifat jangka panjang dan konstan, berkaitan erat dengan pola tingkah laku, dan kecenderungan pribadi seseorang untuk berbuat sesuatu yang baik.

Terbayangkah oleh kita betapa berat yang dihadapi orangtua jika pendidikan karakter ini tidak sama sekali didapatkan anak-anaknya. Anak menjadi pribadi yang pembantah, tidak disiplin, resah, gelisah galau, plin plan, dan seterusnya. Apakah kondisi pribadi seperti ini mampu melewati dan menghadapi proses menuju masa depan dengan keberhasilan, kesuksesan dan kemakmuran dengan semua tantangan, ujian dan segala permasalahan yang menjadi hambatan? Tentu tidak.

Ayah bunda dan para guru yang saya banggakan. Marilah belajar dari perjalanan hidup kita sendiri, banyak diantara kita yang pernah mengalami keterpurukan, jalan buntu, hampir putus asa, sulit memberikan keputusan, rasa khawatir yang besar, selalu melakukan kesalahan, kecewa yang berat, salah perhitungan, penyesalan yang kesemua itu berawal sesungguhnya dari minimnya bangunan  karakter pada diri kita yang seharusnya kita peroleh di masa usia dini kita. Baik di rumah maupun di sekolah-sekolah kita.

Dari penjelasan tentang karakter di atas perlu kita rinci lebih detail sehingga kita benar-benar paham apa contoh dari pendidikan karakter pada anak dalam kesehariannya yang tidak boleh terlewatkan itu.

Tidak sedikit orangtua di zaman sekarang mengimplementasikan bentuk sayang pada anak-anaknya berupa memanjakan anak yang berlebihan dan menafsirkan tindakan demikian sebagai pernyataan cintanya. Namun sesungguhnya itu bukanlah bukti sayang dan cinta yang dibutuhkan anak.

Sikap apa yang diberikan orangtua saat mendapatkan anaknya yang mendorong temannya hingga jatuh?, apa yang dilakukan orangtua saat mendapatkan anaknya mengambil sesuatu yang bukan miliknya? Dengan dalih sayang dan cinta orangtua acapkali memberikan sikap biasa saja “ya udah nanti jangan begitu lagi ya..”, “hehehe… Anak mama sudah bisa dorong temen yah hebat jadi pemberani sekarang biarin aja biar temen takut sama kamu”.
Sikap pembelaan pada anaknya ini sering didapatkan. Biasanya orangtua berpikir lebih gampang membiarkan pelanggaran anak daripada meributkannya. Apalagi memberikan sanksi. Anak benar-benar mendapatkan perlindungan dan pembelaan penuh dari orangtuanya. Ini bukti orangtua pemalas dan tidak peduli dengan masa depan anaknya.

Sikap utama yang seharusnya dimiliki orangtua saat anaknya melakukan kesalahan seperti mendorong dan mengambil sesuatu yang bukan miliknya adalah sikap bahwa masalah ini adalah masalah besar yang harus diselesaikan dengan baik sampai  tuntas dan mendapatkan indikator keberhasilannya. Lalu bertindak tepat dengan bertanya pada anak dengan kondisi yang baik dan mencari tahu apa yang terjadi serta memberikan kesimpulan dengan analisa yang cermat, jika benar anak kita telah melakukan kesalahan maka hal yang terpenting adalah memberikan pengertian kepada anak bahwa hal itu salah dan anak harus meminta maaf.

Contoh Kasus.

 Ada satu kasus yang pernah saya dapatkan cukup menarik untuk dibahas dalam sesi ini, Ibu A bertanya apa yang harus saya lakukan pada anak saya yang selalu kedapatan membawa mainan kecil di kantong celana nya dari ****mart saat anak diajak belanja, Ibu A mengaku bahwa anak yang baru memasuki usia sekolah dasar ini sering dimarahi baik secara bahasa maupun tindakan fisik seperti dipukul, dijewer, dikurung dalam kamar dengan tujuan agar tidak melakukan hal itu lagi tapi ternyata masih tetap dilakukan. Setelah saya coba mencermati ternyata ada hal yang diabaikan secara tidak sengaja oleh Ibu A  sehingga  karakter tidak terbangun pada diri anak inilah yang memicu terjadinya pengulangan perbuatan tersebut.

Setelah Ibu A menerapkan solusi yang saya arahkan Alhamdulillah ternyata anak tidak mengulangi lagi. Awalnya Ibu A ragu untuk menerapkannya, khawatir anak akan marah dan menolak. Tetapi kesadaran akan pentingnya sikap ini untuk membangun karakter anak mendorong Ibu A berkomitmen menerapkan pada anaknya dengan optimal, satu strategi dipilih Ibu A agar anak tidak memiliki pilihan lain selain  mengikuti apa yg diarahkan ibunya, yakni anak tidak diizinkan bermain game kegemarannya sebelum melakukan permintaan sang ibu.

Anak diajak Ibu A  menemui salah satu pegawai ****mart dan anak mengakui kesalahannya, mengembalikan barang yang diambil dan meminta maaf. Tidak hanya sampai di situ, anak meminta pegawai tersebut memberikan sanksi untuk nya sebagai pelajaran atas perbuatan yang sudah ia lakukan. Pegawai tersenyum dan menolak memberikan sanksi namun setelah mendapatkan dukungan penuh dari sang Ibu A akhirnya pegawai memberikan sanksi pada anak berupa mengumpulkan sampah yang ada di dalam dan halaman depan ****mart selama satu jam. Jadi anak tersebut berdiri di bagian dalam pintu masuk ****mart mengamati ruangan dalam dan halaman jika terdapat sampah maka ia ambil dan membuangnya di kotak sampah. Setelah satu jam pegawai mengingatkan anak bahwa waktu sanksi nya sudah berakhir dan anak mendapatkan es krim kesukaannya sebagai hadiah atas sikapnya yang terpuji telah mengakui kesalahan dan siap menerima sanksi. Hari-hari berikutnya, menurut pengakuan Ibu A sang anak bertambah baik sikapnya, hampir tidak lagi memberi sikap negatif pada ibunya. Dan yang utama adalah perbuatan mengambil barang di manapun tidak dilakukannya lagi.

Sudah selayaknya kita yang sudah hidup di era maju dengan kemudahan teknologi dan informasi terbebas dari kurungan  pola kebiasaan jaman dulu, terbelakang, kuno. Masa yang sudah kita lewati sebaiknya bisa menempa diri kita dengan maksimal, mengingatkan diri. Dalil mengajarkan bahwa sanksi harus korektif dan bukan bersifat pembelaan. Banyak faktor dihubungkan dengan disiplin tanpa harus menghancurkan atau merusak arti cinta dan sayang orangtua kepada anaknya.

Orang tua harus berusaha untuk selalu memberikan sikap disiplin, respon dan penyelesaian yang tepat dan mengena. Kecakapan dan ketangkasan dalam hal ini membawa hasil yang akan membimbing anak untuk hidup lebih siap, bertanggung jawab, percaya diri, bahagia karena hampir tidak pernah mengalami kekecewaan bearti atau kesalahan dan penyesalan yang besar. Mengapa? karena bangunan karakter pada diri anak cukup kuat diperoleh di usia dininya sejak ia belum memahami bahwa apa yang dilakukannya adalah salah dan merugikan orang lain sampai benar-benar memahami bahkan menyadari bahwa perbuatan buruknya dapat merusak pribadi luhurnya.

Ayah bunda dan para guru Indonesia harapan bangsa, Kita lah yang dapat membantu dan menyiapkan amunisi yang cukup bagi anak. Janganlah kebutuhan pendidikan karakter anak ini terlewatkan, terabaikan dan anak melewati masa usia dini dengan biasa biasa saja tanpa hal yang bermakna yang mampu memberinya nilai berharga lebih dari sebuah sepeda mahal, baju mahal, mainan mahal dan lain sebagainya. Kasus di atas hanya salah satu contoh bagaimana penerapan pendidikan karakter yang dibutuhkan anak yang sering diabaikan orangtua dan para guru. Masih banyak lagi sikap yang tepat yang sesuai dengan pembangunan karakter yang bisa diberikan pada anak. Sudah selayaknya orangtua di rumah dan guru-guru di sekolah senantiasa memberikan porsi lebih pada pembangunan karakter anak, memberikan ungkapan rasa sayang yang tepat bagi anak sesuai apa yang dibutuhkannya untuk masa depannya bukan hanya di masa anak-anak saja. rumah dan sekolah harus mempunyai visi dan misi yang sama dalam mewujudkan pribadi berkarakter anak-anak, pendidikan karakter ini sangat singkat waktunya yakni hanya di 10-15 tahun pertama dalam rentang pertumbuhan dan perkembangan usia seorang manusia.

Anak memerlukan gambaran yang jelas tentang tingkah laku yang diperbolehkan dan yang dilarang. Si anak merasa lebih aman apabila ia mengetahui secara pasti batas-batas perbuatan yang diizinkan. Cara menyatakan batasan pun harus dipikirkan dengan baik. Harus dicari jalan bagaimana mengemukakannya dengan tetap menghormati harga diri anak tanpa melukai perasaannya. Memberikan larangan harus dilakukan dengan mengungkapkan kewibawaan, bukannya penghinaan dan cemoohan.

Semoga bermanfaat, salam hangat untuk semuanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s